elakangan beredar rekaman percakapan detik-detik terakhir atau cockpit voice recordr (CVR) berdurasi 5 menit 38 detik antara tiga orang yang diduga adalah pilot, co-pilot dan crew pilot.
Rekaman ini mengingatkan kita kembali tentang musibah yang menimpa penerbangan pesawat Adam Air bernomor KI 54 di awal Januari tahun lalu.
Pesawat yang sejatinya menempuh rute Surabaya – Manado ini kehilangan kontak dengan menara pengawas disekotar perairan Masalembo, Sulawesi Tenggara pada pukul 14.07 wita.
Bayank asumsi yang mengatakan bahwa kawasan tersebut memang sangat berbahaya Sebelumnya sejara penah mencatat ditahun 1961 Pesawat Garuda pernah hilang diatas perairan Masalembo, lalu pesawat encari yang terdiri dari Pesawat Dakota dan Helikopter TNI pun ikut hilag tanpa bekas.
Dua puluh tujuh tahun yang lalu tepatnya pada bulan Januari 1981, KM Tampomas II terbakar kemudian tenggelam juga dikawasan Masalembo. Kemudian belakangan Kapal Motor Senopati Nusantara juga mengalami kecelakangan yang sama diperairan tersebut.
Yang menjadi pertanyaan sekarang benarkah semua itu adalah murni karena kesalahan teknis ataukah ada penjelasana ilmiah dibalik hal tersebut.
Apabila kita mencoba menelaah mengenai posisi geografis kawasan Masalembo yang berada didaerah ‘pertigaan’ laut yaitu laut jawa yang berada di Barat Timur dan Selat Makasar yang memotong berarah Utara-Selatan dan oleh karenanya dikenal dengan sebutan Segitiga Masalembo.
Pola kedalaman lau disegitiga Masalembo ini sangat jelas membentuk segitiga yang nyaris sempurna berupa segita sama sisi. Mungkin hal ini mengingatkan kita pada Segitiga Bermuda di Amerika Tengah yang terkenal angker itu.
Hal ini yang membuat kawasan perairan Masalembo menjadi tempat bertemunya arus laut Indonesia, yaitu arus laut yang mengalir dari Barat memanjang di Laut Jawa, berupa monsonal stream atau arus musiman yang sangat diengaruhi oleh cuaca dan musim.
Sedangkan dari Selat Makasar ada arus laut dari Utara yang merupakan thermoklin atau aliran air laut akibat perbedaab suhu lautan. Kedua arus inilah yang kemudian bertemu disekitar Segitiga Masalembo.
Arus laut dikawasan Masalmbo juga dipengaruhi oleh suhu air laut akibat pemanasan matahari, yait ketika lintasan matahari bergerak ke Utara – Selatan dengan siklus tahunan. Itulah sebabnya pada bulan Januari merupakan saat perubahan arus musiman (monsoon).
Arus ini membawa air laut dingin dari Samudera pasifik ke Samudera Indonesia yang diperkirakan dengan debit hingga 15 juta meter kubik perdetik dan hampir semua arus tersebut melewati Selat Makasar. Aliran air sebesar itu bukan sekedar aliran air saja, tapi juga membawa serta aliran ikan laut, aliran sidemen laut, juga aliran temperatur air.
Perbedaan tekanan udara panas disekitar perairan Masalembo tersebut juga akan berpengaruh pada arus angin. Perubahan angin darat dan angin laut karena suhu ini berubah dalam siklus harian, juga siklus tahunan atau disebut siklus monsoon. Siklus air dan angin itu kemudian bertemu di segitiga Masalembo ini.
Sebagian pnelitian menjelskan adanya intensitas magnetik lokal akibat dari pertemuan arus tersebut yang dapat mengakibatkan terganggunya arah penunjuk kompas bila melewati kawsan ini.
Fenomena alam menyangkut segitiga Masalembo ini juga disebabkan adanya negative buoyancy yaitu akibat adanya gelembung – gelembung gas yang mempunyai densitas endah yang terdapat dikawasan ini, sehingga kapal tida bisa mengembang sempurna diatas air yang banyak gelembung – gelembung gas tadi.
Gas tersebut diduga berasal dari hidrat metana (fasa pada seperti dry ice) yang mengurai menj adi gas dan air. Satu satuan volume hidrat metana ini mengurai menjadi 164 satuan vol gas metan dan 0.8 air.
Yang paling dominan mempengaruhi kondisi di kawasan Masalembo ini adalah faktor meteorologis, termasuk didalamnya faktur cuaca, angin, hujan, awan, kelembaban air dan suhu udara yang memang merupakan manifestasi dari konfigurasi batan serta kondisi geologi, oceanografi serta geografi kawasan perairan Masalembo yang sangat unik.
Terlepas dari benar atau tidaknya kajian ilmiah ini, namun fenomena Segitiga Masalembo tersebut membuat kita kebali merenung, mengingat akan kebesaran Sang Pencipta yang Maha Mengatur segala urusan baik dilangit maupun dibumi dngan sempurna. Dan menyadarkan bertapa kecilnya manusia dihadapan-Nya. Bahkan ketika satu helai daun yang gugur ketanah pun.